Selasa, 30 Juni 2015

Refleksi Sardiati...

              REFLEKSI SEBAGAI CALON KONSELOR


     Bicara kebenaran berarti bicara mengenai sesuatu yang bersifat hakiki karena kebenaran yang bisa dibilang kebenaran apabila kebenaran tersebut dapat dibuktikan secara alamiah dan semua orang dapat menyakini nya dan hal tersebut hanya dimiliki oleh sang Pencipta, dalam hal ini yang kita sebut dengan TUHAN, akan tetapi TUHAN menciptakan semua dalam kondisi yang seimbang, ada kebenaran yang bersifat absolut yang tidak bisa terbantahkan oleh siapapun karena datang nya dari sang pencipta dan ada kebenaran berdasarkan kesepakatan para kaum pemikir adalah kebenaran yang sewaktu – waktu dapat dipertanyakan kebenaran nya setelah orang menguji kebenaran tersebut ternyata tidak valid lagi dan hal itu memberikan pandangan jelas bahwa kebenaran yang dibuat manusia tidak dapat dipertahankan karena bisa berubah.

Saya; Sardiati, Islam, Bugis, perempuan, heteroseksual, agak panik terhadap sesuatu, ketika saya melihat diri saya dengan Islam sebagai Agama saya, saya menyakini bahwa Islam menjadi pilihan bukan karena saya memilikinya dari lahir atau dibilang “Islam keturunan” tapi hal itu sudah dilalui dengan perjuangan saya melihat Islam itu sendiri setelah saya mengalami pengalaman – pengalaman spritual sejak saya mulai SMA sampai sekarang dan bahwasan nya apa yang dibilang Islam di dalam Qur’an menjadi benar setelah para ilmuwan melakukan penelitian akan kebenaran tersebut jadi pemaknaan saya akan Islam berawal dari mempertanyakan yang orang sudah yakini tapi saya pertanyakan ulang, sebagai contohnya; mengenai Shalat, bahwa Shalat itu bukan suatu kewajiban tapi merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa kita hindari sehingga hal ini berdampak pada ke etnisan nya yaitu Bugis, yang orang selalu bilang sangat lekat dan mendalam mengenai keterikatan nya dengan Islam.
Maka saya sebagai orang bugis yang dilahirkan di jakarta bukan di bugis, cukup melihat dengan menyakini bahwa pandangan saya mengenai Bugis dilihat melalui pandangan saya melihat kebiasaan masyarakat dan budaya serta bagaimana persepsi hidup orang bugis. Yaitu pada kebanyakan orang Bugis karena leluhur nya adalah pelaut maka jiwa “ keras, prinsip yang tegas dan pantang menyerah” lebih
dilatarbelakangi oleh hidup di laut pada kebanyakan nya sementara ketika mereka berada di darat, akan terlihat bahwa mereka cenderung “ Pamer, agak egois dan merasa sombong “, dan hal ini dipengaruhi bahwasan nya ketika mereka mendapatkan hasil dari laut, entah jadi pelaut atau nelayan, mereka ingin menunjukkan bahwasan nya mereka mau dibilang berhasil dari apa yang ketercapaian mereka di laut. Dua hal yang saya garis bawahi mengenai kebugisan saya adalah bahwa mereka ada sisi positif dan negatif dan yang saya lihat secara dominan nya pada kecendrungan mereka secara positifnya pada kebiasaan pantang menyerah mereka dan kecendrungan negatifnya pada kebiasaan pamer yang sering mereka lakukan untuk dikatakan bahwa mereka dapat terus “ Eksis “.

Sebagai perempuan yang dipengaruhi dari kedua orang tua yang berasal dari dua – dua nya sebrang yaitu Mami dari Gorontalo dan Papi dari Bugis makasar bahwa saya melihat mereka menempatkan sosok perempuan pada tempat sebagai “ Partner Kerja “ bahwa perempuan menjadi sosok yang menjadi penguat mereka ketika mereka berada di lautan dan sungguh menjadi suatu pandangan yang tidak seperti biasa nya ketika pada umum nya lelaki menempatkan perempuan sebagai bawahan nya ketika mereka menempatkan diri mereka ( lelaki ) menjadi yang paling bisa berkuasa atas diri perempuan walaupun demikian tidak dapat dielakkan bahwa keberadaan perempuan sangat lah menjadi faktor yang paling penting sebagai orang yang dapat memberikan inspirasi demi keberhasilan para lelaki yang dilahirkan oleh perempuan – perempuan yang hebat karena memang secara harfiah ,Perempuan dikodratkan sebagai simbol yang lemah akan tetapi justru dari kelemahan itu menimbulkan kesabaran yang merupakan simbol kuat dari para perempuan dan itu terlihat ketika mereka melahirkan seseorang yang lahir ke dunia.
Dan apa ketidakberdayaan yang saya miliki adalah ketika saya menghadapi sesuatu, pada awalnya saya akan mengalami “ Shock “ yang saya bilang bahwa itu adalah “ Kepanikan “ , kemungkinan besar hal itu berasal dari beban tanggungjawab yang besar sebagai anak pertama yang diberikan amanah yang harus dijalankan dengan menggunakan konsekuensi dari apa yang dipercayakan untuk memperlihatkan pertanggungjawaban tersebut bisa dijadikan sebagai pembenaran dari apa tugas dan fungsi sebagai anak pertama.
Akan tetapi Shock tersebut dapat berangsur - angsur hilang seiring dengan ketercapaian dari pengelolaan emosi ketika sudah menjalankan nya jadi pada awalnya saja hal tersebut terjadi akan tetapi lama kelamaan akan dapat menjadi lebur karena selalu ada rasa khawatir untuk dapat menjalankan nya karena beban yang harus dijalani harus ada bukti menjalankan nya .
Seiring dengan pengalaman – pengalaman yang berhadapan dengan para responden mulai dari yang berbeda agama, gender, perbedaan jenis kelamin, kelas sosial atas – bawah dan para disabilitas seperti tuna rungu yang pernah menjadi responden dan yang saya dapati dan paling mencengangkan adalah pada kebutuhan mereka untuk mendapat “ Pengakuan “ atas keberadaan mereka karena ketika keberadaan mereka tidak dapat diterima oleh masyarakat, mereka akan mendapatkan hambatan – hambatan dalam berinteraksi dengan masyarakat pada umum nya ketika hambatan tersebut tidak ada jalan keluar nya mereka akan melakukan semacam penyimpangan akan prilaku, sikap dan berfikir mereka kehidupan ini karena mereka membutuhkan perhatian akan hak mereka untuk dilihat secara “ Sama “ dan bukan yang berbeda menjadi salah dipandang mereka yang pada umum nya normal.
Harapan – harapan akan sesuatu yang bisa mereka andalkan untuk menjaga eksistensi mereka adalah pada beberapa hambatan yang dapat kita uraikan ;

-Penghargaan akan kapasitas diri baik secara fisik maupun non fisik
-Akses yang mereka butuhkan berupa kemudahan akan mobilitas yang mereka lakukan
-Keamanan dan kenyamanan mereka akan keyakinan mereka bahwa mereka dijaga dan dilindungi secara hukum.

Mengenai ketakutan – ketakutan yang selalu dihantui akan keberadaan mereka yang dianggap sebagai sosok yang “ Unik “ bahwa perbedaan itu ada yang mereka sadari dan ada yang mereka tidak sadari secara alami, yang di antara nya ,menjadi bayang – bayang mereka selama hidup selama mereka tidak ada jaminan untuk menghilangkan ketakutan tersebut.
Akhirnya mereka membuat sekutu berupa grup – grup atau LSM yang dapat mereka jadikan jaminan untuk membebaskan ketakutan mereka dan ketika mereka berkumpul, seolah – olah mereka mendapatkan kekuatan akan rasa percaya diri mereka dapat terbangun secara baik.
Dari keterkaitan kebutuhan, harapan dan ketakutan, saya merefleksikan nya sebagai proses yang alamiah dirasakan oleh seseorang ketika mereka merasa “ berbeda “ tidak pada seperti pada umum nya . Karena tidak ada seseorang pun yang mau tidak merasa Nyaman dalam hidup ini karena pada dasarnya orang memerlukan “ kebahagiaan” dan apa yang mereka bilang dengan kata kebahagiaan adalah pada bagaimana menyikapi kehidupan ini dengan cara mereka mempersepsikan sesuatu dalam hidup ini.
Kata, terlalu sedikit untuk bisa ditampilkan dan mewakili apa yang saya ingin saya katakan karena yang lebih baik bagi saya adalah pernyataan yang mewakili sikap saya terhadap “ kepincangan – kepincangan atau ketidakseimbangan “ yang saya lihat, rasakan dan coba bertindak akan tetapi saya memerlukan orang yang tepat untuk dapat menampung aspirasi dari keinginan – keinginan yang selama ini terpendam dan bingung untuk menyatakan walaupun secara lisan dapat dilakukan pada saat kita berdiskusi atau pada saat kuliah akan tetapi bukan lah sesuatu yang baik itu kalau hanya dibicarakan tetapi tidak dapat dilakukan dan tidak bermakna buat semua orang.
“ Surat ini, saya tujukan terhadap Menteri Pendidikan dan Menteri sosial serta Presiden yang memegang otoritas tertinggi untuk mensahkan keputusan yang berdasarkan pertimbangan – pertimbangan dari beberapa hal yang paling dianggap prioritas yang kebermaknaan nya sangat dibutuhkan oleh banyak orang yang bukan hanya dibutuhkan oleh sekelompok orang tertentu saja “.
Harapan saya mengenai surat ini, dapat menjadi Inspirasi buat semua orang yang mempunyai persepsi nya terhadap status keberagaman mengenai perbedaan yang mengharuskan orang untuk dapat menerima perbedaan tersebut.
SURAT UNTUK MENTERI SOSIAL
Sosial yang dipersepsikan dari dulu hanyalah bersifat tidak menjadi “ Sosial “ yang sebagian “orang bodoh” memahami nya dengan orang yang memiliki jiwa yang sangat pemurah dan tidak berat untuk menimbang kebijakan sana dan sini akan tetapi lebih melihat bahwa faktor prioritas untuk lebih memaknai bahwa sosial bukan lah untuk menjadi “ membuat sial “ bagi orang yang mau berbuat sosial dan hal ini tidak dapat dimaknai oleh orang – orang yang “pintar” yang dianggap faham akan makna sosial tersebut. Jadi kami sebagai kaum pemikir dan praktisi di lapangan sangat membutuhkan sosial tidak lagi dimaknai “ Pembagian Kue “ untuk orang – orang yang mempunyai kepentingan terhadap sosial tersebut.
Sehingga bagi yang tidak mendapatkan kue, minimal mereka dapat merasakan “ harum “ nya kue tersebut jadi segala yang membicarakan kepentingan orang banyak harus dibicarakan secara “ terbuka “ jadi tidak menjadi komsumsi bagi segelintir kelompok yang tidak terlihat tetapi mereka memiliki peran yang sangat tinggi dan besar pengaruhnya untuk mempengaruhi kebijakan yang ada di bawah
DITULIS OLEH :
PEKERJA SOSIAL/ PEKSOS
SARDIATI,S.Sos,S.Pd
-
SURAT UNTUK MENTERI PENDIDIKAN
Pendidikkan, menjadi simbol yang sangat krucial dan sangat dianggap penting karena menjadi jantung untuk bagi kebaikan semua orang.
Perlu dicatat apa yang dilihat dengan pemaknaan di lapangan mengenai pendidikan, orang masih melihat bahwa orang yang bisa mengenyam pendidikan adalah orang yang mempunyai modal atau dana yang cukup untuk merealisasikan pendidikan yang ingin dituju akan tetapi dengan memberikan isyarat bahwa perubahan yang dibutuhkan dalam pendidikan bukanlah perubahan yang kecil tapi “ PERUBAHAN YANG BESAR “ YAITU PADA “ MIND SET “ jadi untuk menjadi orang yang pintar dalam pendidikan haruslah diberikan berupa pendidikan yang dapat langsung
memberikan pengalaman yang nyata bukan pada angan – angan yang dapat membuat orang hanya berharap pada sesuatu yang tidak jelas jadi Harapan kami, untuk dibuat sebuah program yang baik dan benar yaitu mulai menyadari akan kelebihan – kelebihan yang dimiliki untuk dijadikan kekuatan dan pelatihan secara gratis dengan diisi oleh orang hebat dan langsung diaplikasi berupa pengabdian terhadap masayarakat dan negara”

Ditulis oleh:
PRAKTISI PENDIDIKAN
SARDIATI,S.Sos,S.Pd
Apa yang saya yakini bahwa perubahan akan dapat dijalankan dengan motivasi yang besar yang dilakukan nya dengan ikhlas dan dapat berbagi pada orang yang membutuhkan apa yang orang butuhkan dari apa yang bisa kita berikan;
Pelajaran apa yang terpenting setelah saya mendapatkan mata kuliah ini, saya lebih dapat merasakan apa yang orang rasakan baik yang orang dapat terima atau tidak berupa “ MENJADI PENDENGAR ITU TERNYATA JAUH LEBIH BAIK SEHINGGA KITA DAPAT MELIHAT KETERBATASAN DIRI MELALUI ORANG YANG KITA DENGARKAN SEHINGGA KITA DAPAT MEJADI LEBIH BIJAK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar